fbpx
Breaking News

SIAPAKAH AHLI WARIS

Pertanyaan :
Assalamualaikum Warahmatulloh.
Afwan ustadz, siapakah yang berhak menjadi ahli waris baik dari kalangan laki-laki maupun wanita ? mengingat pada hari ini banyak dari kaum muslimin yang tidak mengamalkan hukum waris menurut Islam dan apakah cucu dari anak perempuan termasuk ahli waris ?

Jawaban :
Wa’alaikumussalam Warahmatullohi Wabarokatuh.
Ahli waris dari kalangan laki-laki adalah : Anak Laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, Bapak, kakek(Bapaknya bapak dan ke atas), saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki sepabak, saudara laki-laki seibu, anak saudara laki-laki sekandung, anak saudara laki-laki sebapak, paman(saudaranya bapak) sekandung, paman(saudaranya bapak) sebapak, anak paman(saudaranya bapak) sekandung, anak paman(saudaranya bapak) sebapak, suami, orang laki-laki yang membebaskan budak.
Dari ke 15 golongan ini, ahli waris yang pasti mendapat warisan adalah : Anak laki-laki, Bapak dan suami. Sedangkan yang lainnya bisa terhalang oleh orang laki-laki yang paling dekat dengan mayit. Cucu terhalang mendapatkan warisan jika masih ada anak laki-laki, Saudara terhalang mendapatkan warisan jika ada anak atau bapak, keponakan terhalang mendapatkan warisan selama masih ada saudara, paman terhalang jika masih ada saudara, anak paman(sepupu) terhalang mendapatkan warisan jika masih ada paman, orang yang membebaskan budak terhalang dari mendapatkan warisan ketika masih ada anak paman atau paman. Sebagai contoh : mayit meninggalkan : Bapak, anak laki-laki, saudara laki-laki kandung, paman dan keponakan. Yang mendapatkan warisan hanya : Bapak dan anak laki-laki, karena adanya bapak dan anak laki-laki menghalangi saudara, paman dan keponakan.
Sedangkan ahli waris dari kalangan wanita adalah : Anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki, Ibu, nenek(dari pihak ibu), nenek(dari pihak bapak), saudara perempuan sekandung, saudara perempuan sebapak, saudara perempuan seibu, Isteri dan wanita yang membebaskan budak. Adapun bibi, baik dari jalur bapak atau ibu, keponakan perempuan, sepupu perempuan, cucu dari anak perempuan, maka mereka bukanlah termasuk ahlu waris.
Dalil bahwa anak laki-laki dan perempuan termasuk ahli waris(cucu laki-laki dan perempuan dari anak laki-laki termasuk ahli waris jika anak laki-laki atau perempuan tidak ada) :
Allah Ta’ala berfirman :
يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ
“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan” (An Nisa’ : 11)
Dalil bahwa bapak dan ibu termasuk ahli waris(kakek dan nenek dihukumi bapak dan ibu jika  keduanya(bapak dan ibu) tidak ada) :
وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ
“dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan” (An Nisa’ : 11).
Dalil bahwa suami dan Istri termasuk ahli waris :
وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ
“dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak.” (An Nisa’ :12)
وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ
“Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. .” (An Nisa’ :12)
Dalil bahwa saudara laki-laki dan perempuan(sekandung, sebapak dan seibu) termasuk ahlu waris :
وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلَالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ
“jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.” .” (An Nisa’ :12)
إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ وَهُوَ يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ
‘jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan).“(An Nisa’ :12)
Dalil bahwa : Orang yang membebaskan budak termasuk ahli waris dari budak yang ia bebaskan :
إِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ
“Sesungguhnya wala’(hak mendapatkan warisan dari budak yang dibebaskan) hanya berlaku bagi orang yang membebaskan.” (HR. Bukhori Muslim)
Dalil bahwa : keponakan laki-laki, paman(saudara bapak), anak laki-laki paman termasuk ahlu waris :
Rasululloh Shallallahu Alaihi Wasallam :
أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِىَ فَهُوَ لأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ

“Berikanlah jatah warisan kepada yang berhak(berdasarkan perhitungannya). Jika sisa, berikan kepada laki-laki yang paling dekat(dengan mayit).” (HR. Bukhori dan Muslim).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *