fbpx
Breaking News

KEMUNGKARAN DALAM WALIMAH

Walimahtul ‘ursy adalah jamuan makan yang diadakan khusus dalam resepsi pernikahan. Hukum melaksanakan walimatul ‘ursy adalah sunah muakkadah. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam telah memerintahkan Abdurrahman bin ‘Auf saat beliau menikah dengan sabdanya ;
أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ
Adakanlah jamuan walimah walau hanya dengan ( menyembelih ) seekor domba. (HR. Al Bukhari)
Dalam penyelenggaraan walimah, masih banyak yang menyimpang dari tuntunan islam. Mulai dari campur baurnya antara tamu laki laki dan perempuan, dentuman musik yang memekakkan telinga, megundang orang orang kaya saja dan meninggalkan orang orang miskin, perayaan walimah yang terkesan glamor dan lain sebagainya.
Sebagai seorang muslim tentunya ingin agar setiap yang dilakukan mendapat ridha Allah ta’ala, termasuk dalam hal walimah al ‘Ursy. Dan tidaklah seseorang akan bersesuaian dengan sunnah kecuali harus belajar penyimpangan dalam hal tersebut. Maka penting belajar berbagai penyimpangan dalam walimah agar walimah jauh dari murka Allah ta’ala. Diantara penyimpangan penyimpangan tersebut adalah ;

Pertama; Memajang Pengantin dan campur baur tamu laki laki dan wanita.

Banyak pengantin yang mendatangi salon sebelum acara walimah. Mereka rias wajah biar kelihatan ganteng dan cantik. Banyak yang harus memotong alisnya dan didandani dengan dandanan yang memperlihatkan auratnya.
Setelah berdandan dan tiba saatnya resepsi pernikahan, kedua mempelai didudukkan di “ranjang pengatin” yang diletakkan antara undangan pria da wanita. Sehingga undangan perempuan bisa melihat pengantin laki laki, demikian pula undangan laki laki dapat melihat pengantin perempuan. Perbuatan ini adalah perbuatan yang dilarang dalam islam. Karena hal tersebut memberi kesempatan untuk berbaur antara tamu laki laki dan wanita. Dan juga kecantikan wanita yang seharusnya hanya untuk suaminya, dipamerkan untuk setiap lelaki yang mau menikmatinya.
Syaikh Abdul Aziz Ibnu Abdillah Ibnu Baz rahimahullah berkata : “Termasuk kemungkaran-kemungkaran yang diadakan manusia, ialah menjadikan tempat pajangan pengantin laki-laki dan perempuan, yang biasanya didampingi para dayang pesolek dan bertabarruj. Tidak ragu lagi bagi orang yang masih mempunyai fitrah yang suci dan kecemburuan dalam agamanya, bahwa perbuatan ini temasuk kemungkaran yang amat besar kerusakkannya, karena kaum pria dengan bebas dapat melihat para wanita pesolek itu. Sungguh semua ini dapat menghantarkan jalan keburukkan, maka wajib bagi setiap muslim agar mewaspadainya dan berusaha menutup celah-celah kesesatan yang dapat menjaga para wanita dari segala hal yang bertentangan dengan syari’at yang mulia.” (Ar-Rasail wa Ajwibah An-Nisa’iyyah: 44).

Kedua; Mengundang orang-orang khusus dari kalangan berpangkat dan kaya raya tanpa mengundang orang-orang miskin.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا اْلأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُوْلَهُ صلى الله عليه وسلم
“Sejelek-jelek makanan walimah adalah makanan yang hanya orang-orang kaya yang diundang tanpa orang-orang miskin, dan barangsiapa yang tidak memenuhi undangan maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan RasulNya.”[HR. Bukahari no. 5177, Muslim no. 107, 110].
Maksud hadits di atas adalah bahwa makanan dalam walimah akan menjadi seburuk-buruk makan apabila yang diundang menghadiri acara tersebut hanyalah orang-orang kaya yang biasanya tidak mau datang karena sudah terbiasa makan enak. Sedangkan orang-orang miskin yang tidak biasa makan enak dilarang untuk mendatanginya.
Sayangnya, hadits ini banyak diingkari. Ada kalangan yang mengaku Islam, tapi sangat jauh dari nilai-nilai islami saat hendak menyelenggarakan walimah. Mereka hanya mengutamakan menu, berbangga diri, dan benar-benar tidak melibatkan orang miskin, yatim piatu, dan kelompok masyarakat lain yang benar-benar membutuhkan makanan bergizi nan lezat.

Ketiga; Boros Dan Berlebih-Lebihan.

Banyak yang mendapatkan hasutan dari para tetangga dan juga keluarga agar melaksanakan walimah secara besar besaran. Bahkan sebagian keluarga atau tetangga ada yang siap untuk meminjami uang jika memang tidak memilikinya. Akhirnya masyarakat berlomba untuk mengadakan walimahan secara besar besaran. Merasa malu jika walimah hanya diadakan denga sederhana.
Disewalah gedung besar dan megah. Diundanglah catering termahal dan terenak. Diundang pula group musik terkenal sekaligus para penyanyinya. Dekorasipun dicarikan terbaik, yang semua itu hanya untuk sombong sombongan.
Allah Azza wa Jalla telah mencela sifat berlebih-lebihan beserta pelakunya dalam 22 ayat al-Qur’an. Di antara , Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَتُسْرِفُوا إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” [Al-A’raaf: 31].
Maka tirulah apa yang dilakukan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Kesederhanaan dalam walimah sesuai kemampuan. Dimana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah mengadakan walimah saat menikahi Ibunda Shafiyyah hanya dengan bubur hais. Yaitu kurma yang dikupas lalu diolah dengan gandum.

Keempat; Suara musik serta Mengundang Para Artis Dan Biduan.

Kemungkaran lain dalam pernikahan adalah adanya musik, baik berupa alat musik, lagu atau nyanyian atau panggung hiburan. Parahnya lagi, ada yang sengaja mendatangkan para biduan dan biduanita ke pesta pernikahan untuk menghibur para tamu undangan.
padahal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ،
Sungguh, akan ada di antara ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat-alat musik.” [HR. Al Bukhari]
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.” [Luqman : 6]
 ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata: “ Maksud dari لَهْوَ الْحَدِيثِ (percakapan kosong) adalah lagu dan nyanyian. Demi Allah yang tiada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia!” (Beliau mengulangi perkataannya tiga kali)[ Ibnu Jarir ath-Thabari (no. 28040) dan al-Hakim (II/411)]
Hanya ada satu alat musik yang boleh dimainkan, yaitu rebana. Itu pun hanya boleh dilakukan pada tiga keadaan: ketika ‘Iedul Fithri, ‘Iedul Adh-ha, dan pesta pernikahan. Dengan syarat, alat musik ini hanya boleh dimainkan oleh gadis-gadis kecil yang belum baligh.
Syaikh Muhammad Ibnu Shalih Al-Utsaimin berkata: “Biasanya pada malam pernikahan, pemilik hajatan mengundang para artis guna memeriahkan pernikahan dengan bayaran yang cukup lumayan. Memang benar, Islam membolehkan nyanyian saat pernikahan, tapi nyanyian yang bagaimana? Nyanyian-nyanyian sekarang ini biasanya malah memilih lagu-lagu yang membangkitkan syahwat serta mendorong perbuatan zina, lihat saja! Betapa banyak sekarang para penyanyi memilih lagu-lagu yang berisi ajakan pacaran, bercinta antara lawan jenis, dan sebagainya. Dampak negatif lainnya yaitu tenggelamnya para hadirin menikmati alunan suara melodi yang dilantunkan para artis tersebut, sehingga menimbulkan fitnah -lebih-lebih di saat seperti ini- . Dampak negatif lainnya adalah mengganggu para tetangga, sebab kadang-kadang –bahkan seringkali- acara ini sampai larut malam.” [Min Munhkarat al-Afrah hal. 5]

Kelima; adalah kemungkaran terkait dengan adat istiadat.

Ada adat-adat yang masih dipegang teguh oleh masyarakat sehubungan pernikahan masih banyak. Seperti, kembar mayang, siraman (pengantin putri dimandikan di luar dengan “sumur pitu”. Konon ini untuk membersihkan jiwa yang dan raga), wijidadi (pengantin laki-laki menginjak telur dengan kaki kanannya, sedangkan kaki perempuan kemudian mencuci kaki pengantin laki-laki). Konon artinya pengantin laki-laki sudah siap bertanggung jawab dan menjadi ayah, dan pengantin putri siap berbakti kepada suaminya, menggunakan kembar mayang yang diyakini memiliki makna tertentu dan masih banyak lagi. Ada keyakinan bahwa jika adat-adat seperti ini tidak dilakukan maka akan ada kesialan yang terjadi.
Padahal islam melarang untuk bertathoyyur, yaitu menganggap sesuatu membawa sial atau membawa untung. Demikian pula islam melarang untuk mengikuti ajaran ajaran hindu. Karena hampir acara resepsi yang hari ini ada, banyak mengadopsi dari budaya hidu. Padahal islam melarang ummatnya untuk mengikuti budaya budaya orang orang kafir.
Dalam kehidupan bermasyarakat, mungkin pernah tebersit di hati rasa malu atau tidak percaya diri atau merasa ketinggalan jaman ketika menyelisihi adat yang terjadi di lingkungan. Tidak perlu merasa hina atau malu apabila acara walimah berbeda dengan kebanyakan orang. Karena memang sunnah itu harus berbeda dengan kebid’ahan dan kesyirikan. Tetapi ketahuilah bahwa sunnah itu akan membawa keberkahan dalam berbagai hal yang dilakukan seseorang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *