fbpx
Breaking News

AGAR BEBAS TIDAK BABLAS

 

Ada peristiwa menarik yang selalu terulang di Indonesia dan menarik untuk dikaji. Adalah ide toleransi antar agama. Ide ini  nyaring terdengar di setiap penghujung tahun, dan terus menerus terulang entah sampai kapan. Meski sebagian kalangan menilai isu ini  yang sarat  kepentingan berbagai kalangan.Namun, ironisnya yang selau terkena dampaknya adalah ummat Islam. Ummat Islam dengan dalih toleransi antar agama diminta untuk mengucapkan Selamat pada ritual keagamaan non-Muslim, seperti hari raya Natal, tahun baru Masehi dan semisalnya. Seolah-olah ummat Islam tidak mempunyai konsep keagamaan yang jelas, sehingga kerapkali ikut hanyut dalam euforia toleransi tanpa batas ini. Padahal, Islam tidak mengenal hari raya selain dari ‘idul Fithri dan ‘idul Adha

            Sebelum agama Islam menyebar menguasai sepertiga dunia perkara ini sudah final. Terjelaskan dalam banyak ayat dan hadits, perubahan-perubahannya dijelaskan oleh  para ulama seiring dinamika kehidupan yang terus mengalami perkembangan. Namun prinsipnya tidak akan pernah berubah sepanjang umur peradaban, la ikraha fiddinlakum diinukum wa liyadiin itulah prinsip baku yang harus di pahami dengan benar oleh setiap Muslim. Hanya saja sering terjadi kesalahan dalam menentukan batas-batas la ikraha fiddinnya. Sebagian orang menafsirkan itu adalah kebebasan bersikap dan berpindah-pindah agama apapun sesuai kemauan. Toh, pada prinsipnya tidak ada paksaan dalam agama. Pemahaman ini sangat kacau jika ditimbang dalam perspektif syar’i, implikasinya sangat serius pada aqidah Islamnya  Berbicara toleransi antar agama, kita akan dapati Islam adalah agama yang paling toleran. Tidak ada yang bisa mengalahkan prestasi ini sepanjang sejarah dunia, tidak Yahudi tidak juga Kristen. Namun bukan toleransi tanpa batas seperti yang digaungkan beberapa pihak. Islam mengenal Istilah ushul (dasar) dan furu’ (cabang). Masalah ushul adalah masalah yang tidak ada tawar menawar, sedangkan masalah furu’ adalah medan kreatifitas para mujtahid yang akan terus berubah sesuai dengan perubahan zaman tanpa menanggalkan prinsip-prinsip utamanya. Masalah ushul sangat erat kaitannya dengan ideologi sedangkan masalah furu kaitannya dengan tatacara pelaksanaan dan prinsip-prinsip muamalah. Disebabkan  perkembangan zaman dan perbedaan penafsiran pada ayat-ayat yang mengandung permasalahan furu’ serta pendapat para ulama mujtahid mengenai tata cara pelaksanaan syari’at. Disinilah sebenarnya letak pentingnya mengetahui perkara apa saja yang ditolerir syar’i dan yang tidak ada toleransi sama sekali. Dalam makalah ini penulis membatasi masalah hanya pada permasalahan  yang berkaitan dengan hubungan kita terhadap orang-orang diluar Islam saja. Tujuan utamanya agar kaum muslimin tidak lagi salah kaprah mengartikan kalimat “Toleransi Antar Agama”, sehingga membahayakan status aqidah mereka.
Pengertian Toleransi
Secara bahasa Berasal dari kataسَمَحَ  dengan wazn تفاعَل  menjadi تسامح yang berarti  تساهل فيه (murah hati, bersikap mudah/toleransi). (lihat. al-Munjid fî al-Lughâh wal I’lâm, hlm. 349 ). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata “Toleran” artinya membiarkan,mendiamkan dan sikap lapang dada dalam pergaulan. Sedangkan menurut WJS. Poerwadarminta, adalah sikap kelapangdadaan dalam arti suka rukun kepada siapapun, membiarkan orang lain berpendapat dan berpendirian lain tak mau menggangu kebebasan berfikir dan keyakinan orang lain.[1]  Adapun toleransi dalam Bahasa Inggris berasal dari kata “ Toleration” atau “Tolerance” artinya membiarkan suatu perbuatan yang dikerjakan orang lain, meskipun pada dasarnya kita tidak senang dengan perbuatan itu.[2]
Sedangkan menurut Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali toleransi bermakna, “Kerelaan hati dan kedemawanan, kelapangan dada kerena kebersihan dan ketaqwaan, kelamahlembutan karena kemudahan, muka ceria karena kegembiraan , rendah diri di hadapan kaum Muslmin bukan karena kehinaan, mudah dalam berhubungan sosial tanpa penipuan dan kelalaian, menggampangkan dalam berdakwah ke jalan Allah tanpa basa-basi, terikat dan tunduk kepada agama Allah tanpa rasa keberatan, merupakan inti Islam, iman yang paling utama, puncak tertinggi budi pekerti (akhlaq)[3]
 Dalam Islam toleransi dikenal dengan as-Samahah, istilah ini berasal dari hadits Ubadah bin Shamit dalam Musnad Imam Ahmad:
عن عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ يَقُولُ إِنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَتَصْدِيقٌ بِهِ وَجِهَادٌ فِي سَبِيلِهِ قَالَ أُرِيدُ أَهْوَنَ مِنْ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ السَّمَاحَةُ وَالصَّبْرُ قَالَ أُرِيدُ أَهْوَنَ مِنْ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا تَتَّهِمِ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي شَيْءٍ قَضَى لَكَ بِهِ
Artinya:  Dari 'Ubadah bin Ash Shamit berkata: Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam dan berkata: Wahai Nabi Allah amalan apa yang paling utama? Rasulullah menjawab: "Beriman kepada Allah dan membenarkannya dan berjihad dijalanNya." Orang itu berkata: Saya ingin yang lebih mudah dari itu wahai Rasulullah! Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Berlapang dada dan bersabar." orang itu berkata lagi: Saya ingin yang lebih mudah dari itu wahai Rasulullah?. Maka, Rasulullah berkata: "Janganlah kamu berprasangka buruk kepada Allah dalam suatu yang telah diputuskan untukmu."  Disebutkan juga dalam riwayat Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah menyukai agama yang hanifiyyah dan as-samhatu. (lihat.  musnad Ahmad 4/17, no. 2107))
               Tidak ada definisi khusus memang  tentang  masalah toleransi yang tersebut dalam nash. Hanya saja kita bisa memahaminya melalui banyak ayat dalam al-Qur’an, hadits, serta dari kaidah-kaidah fiqih. Seperti perintah untuk berbuat kebaikan (surat an-Nahl: 90), perintah untuk melapangkan dan menghilangkan kesulitan (al-A’raf: 199, An-Nuur:22, al-Baqarah 237, Al-Imran :134, al-Hijr: 85, az-Zukhruf: 89 dan as-Syura: 43), perintah membalas keburukan dengan kebaikan (ar-Ra’d:22, al-Mukminun:96, Fushilat: 34), perintah untuk menghilangkan  kesusahan (al-Hajj:78,al-Baqarah:185, al-A’raf:157)
            Namun, Jika kita perhatikan secara teliti, ayat-ayat diatas semuanya berbicara pada konteks mu’alamah bukan pada konteks aqidah, sehingga tidak ayat ini tidak bisa digunakan melegalkan toleransi yang berkaitan dengan masalah aqidah, semisal ikut merayakan hari raya orang kafir atau sekedar mengucapkan selamat saja. Karena pada perkara ini para ulama sudah bersepakat haram hukumnya. Karena hari raya adalah bagian dari syari’at dan bernilai ibadah dalam agama mereka, sedangkan umat Islam diperintahkan oleh Rasulullah untuk menyelisihi mereka[4]
Dalam kaidah fiqih kita mengenal kaidahالمشقة تجلب التيسير”  salah satu hadits yang menjadi landasan kaidah ini adalah hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah dalam musnadnya  “…بعثت بالحنفية والسمحة …” artinya “ …sesungguhnya Aku (Nabi Muhammad) di utus untuk agama yang lurus dan toleransi…”[5]
Rasulullah diutus Allah dengan membawa Islam, jadi logikanya agama dimana Rasulullah diutus itulah yang disifati dalam hadits diatas, dan sudah tentu agama itu adalah agama islam karena Islam adalah agama yang dibawa Rasululullah. Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur segala macam urusan, baik urusan dunia atau urusan akhirat, urusan sesama agama maupun urusan dengan orang yang beda agama. Kita tidak akan mendapatkan hal ini secara spesifik pada agama diluar Islam. Kaidah fiqih ini adalah salah satu contoh bahwa Islam itu sebenarnya menginginkan hubungan yang baik terhadap sesama manusia. Bahkan, pada perintah jihad sekalipun. Karena jihad bertujuan untuk meninggikan kalimat Allah. Maksudnya adalah kalimat tauhid, sedangkan syari’at Islam merupakan pengejawantahan dari kalimat tersebut.
 
Batasan-Batasan Toleransi Terhadap Non-Muslim
Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, agama Islam adalah agama yang paling toleran, namun bukan toleransi tanpa batas yang sering didengungkan kaum Sekularis dan Liberalis. Islam mempunyai prinsip ushul(pokok) dan furu’ (cabang). Ummat Islam dalam perkara ushuliyyah menolak toleransi antar agama, karena perkara ini berkaitan dengan masalah i’tiqadi(perkara keyakinan), menerima toleransi pada ranah ini berimplikasi pada rusaknya aqidah. Sedangkan masalah furu’iyah kaitannya dengan permasalahan fiqih yang masih mengandung perbedaan pendapat dikalangan ulama. Perkaranya bisa pada masalah tatacara pelaksanaan ibadah, muamalah dan semua perkara yang yang masuk dalam ranah ijtihad. Pada hal ini Islam memberikan ruang pada toleransi.
 Imam al-Badzdawi[6] berkata dalam sebuah pernyataan yang dinukil oleh Syaikh at-Thuraiqi ,“…pada dasarnya berhak atas orang kafir hukum-hukum Islam(dalam darul Islam), namun hal itu bukan dimaksudkan agar Allah mengampuninya. Hanya saja itu berlaku hanya sebatas masalah sosial dunia saja. Bukan sebagaimana pada kaum muslimin, bagi mereka perkara itu juga berpengaruh pada perkara akhiratnya (ampunan Allah).”[7] Maknanya al-Badzdawi hanya membatasi pada masalah yang sifatnya sosial saja, tidak untuk perkara yang berkaitan dengan masalah akhirat.
Syaikh Mahmas al-Jal’ud membagi hubungan dengan orang kafir dalam dua bagian. Pertama, hubungan kaum muslimin dengan orang kafir yang netral, artinya tidak memerangi kaum muslimin. Beliau membolehkannya, dengan landasan ayat:
ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموظة الحسنة وجادلهم بالتى هي أحسن….
Artinya: “ dan serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah, peringatan yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik…” (an-Nahl: 125). Pada saat orang-orang kafir itu ingin mengadakan hubungan sosial dengan kaum muslimin dan kedua belah pihak mendapatkan manfaat maka dalam hal ini tidak dilarang. Kedua, hubungan dengan kafir harbi (yang memerangi kaum muslimin), maka sebagaimana para ulama yang lain beliau mewajibkan memerangi mereka. Beliau mengklasifikasikan kafir yang wajib diperangi pada tiga golongan; kaum kafir penyembah berhala, kafir dari kalangan Yahudi dan kafir dari kalangan Nashrani. Setiap golongan dari mereka ada ada kaidah-kaidah berbeda yang diterapkan ketika memerangi mereka.[8]
Namun ada satu celah yang harus dipahami, celah ini bisa digunakan untuk melegalkan ide toleransi ala Pluralis dan Liberalis. Masalahnya terdapat pada penafsiran pada  kalimat    لا اكراه فى الدين”  dalam surat al-Baqarah: 226. Jika ditinjau dari makna secara tekstual memang benar makna kalimat itu adalah “…tidak ada paksaaan dalam beragama…” yang secara tidak langsung ayat ini memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih agamanya sendiri dan tidak boleh ada klaim kebenaran pada masing-masing agama, karena Allah tidak pernah memaksa hambaNya memililih agama tertentu. Pendapat ini berimplikasi pada ide toleransi bebas tanpa aturan. Ini jelas tidak benar, karena landasannya hanya berdasar logika saja. Tentunya untuk memahami tafsir ayat itu kita harus merujuk kepada tafsir para ulama mufassirin yang telah mendapat rekomendasi ummat Islam. Namun terkadang mereka menolak tafsiran para ulama Islam dan lebih mengacu pada tafsiran metode Orientalis. Karena pada dasarnya mereka ingin memutus mata rantai syari’at dengan mengkaburkan seluruh tafsir para ulama yang mereka anggap tidak sesuai meskipun telah diakui umat Islam seluruh dunia.
Mengenai ayat diatas, Ibnu Katsir berkata,” Tidak ada paksaan dan tidak boleh memaksa seseorang untuk masuk ke dalam Islam. Hanya mereka yang mendapat hidayah saja yang masuk kedalam Islam. Barangsiapa telah Allah tutup dan butakan mata hatinya serta telah Allah tulikan kedua telinganya. Maka tidak perlu memaksa orang ini untuk masuk kedalan Islam”[9].Imam at-Thabari berpendapat ayat ini peruntukkan bagi mereka yang membayar jizyah di negara Islam.[10] Sedangkan Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa sebenarnya ayat ini telah dimansukh dengan ayat perintah untuk berjihad  (at-Tahrim:9)

يآيّهاالنبي جاهد الكفار والمنافقين…
By: Yamin al-Indunisiy

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *